Aku memanggilmu Gi

 


—Aku memanggilmu Gi


Gi, bagaimana kabarmu?

Lain kali pergilah dengan pamit, aku menerima dengan lapang setiap permintaanmu. 

Setiap tarikan deru nafasmu, 'ku yakini dengan pasti bahwa aku hanyalah sesuatu yang singgah sementara dalam hidupmu.

Gi, aku ingin egois tapi rasanya aku tak tahu diri.

Kau memberiku kehangatan disaat orang lain tak mampu, dan ketika kau menemukan tempat berteduhmu, aku tidak sejahat itu untuk menarikmu keluar hanya untuk bersamaku.

Gi, biarlah kutitipkan seperempat dari rasa rinduku serta selusin tumpukan kasihku untukmu. Aku rela kau membawa segala yang ada pada diriku karna nyatanya dari awal berjumpa, aku sudah terpikat oleh caramu tersenyum.

Kalau diingat kembali, aku bertemu denganmu dikala matahari menyinar mendekati waktunya untuk meredup, lalu kau dengan sepedamu berhenti menghampiriku yang terdiam di tepi jalan. Uluran tanganmu serta senyum gusimu pengenal akan kehangatan dikala jingga menyapa.

Kala itu kau berkata bahwa tidak apa kalah akan permainan dunia asal matahari masih terbit di timur selamanya kesempatan itu akan ada, kau membagi wejangan ringan diantara uap teh saat kau mampir duduk di sofa reot apartemenku.

Malam itu, aku memantapkan diri bahwa setidaknya dunia tidak jahat, masih ada yang tersisa untukku—kamu. Malam itu kita berbagi selimut, saling mendekap membagi ruang di hati, saling melempar lelucon akan keluhan si merpati yang begitu setia menunggu pasangannya menjelang pagi, obrolan kita tak terarah. Lalu disetiap malamnya kau tutup dengan kecupan di dahi sambil berbisikan bahwa esok akan baik-baik saja.

Dua tahun kau sudah bersamaku, kuhitung setiap detik dan menit. Pagi itu aku terbangun dengan tawa simpatik; simpati kepada diriku sendiri. Aku tertawa hinggi air mataku tanpa sadar keluar begitu saja, sebegitu lucunya hingga aku tak bisa berhenti tertawa dan menangis. Pagi itu, ruangmu dingin, nyatanya lelucon hidup kurasakan kembali. Kau pergi dini hari dipukul empat, membawa segenap hatiku yang kau ambil tepat ketika malam menjelang.

Selamat kasihku.

Bawalah hatiku selalu, aku masih disini namun bila esok kedua mataku tak terbuka, ingatlah bahwa permainanku pada dunia ini telah selesai.


with love,

bloom.

Komentar

Postingan Populer