Teruntuk, kamu dan aku.
Esok bagaimana ya?
Kita engga pernah tau akan hal yang terjadi, hari ini rasanya bahagia banget tapi besoknya menjadi hari paling buruk. Minggu ini rasanya berada diatas awan, minggu berikutnya seperti diinjak bumi, atau perihal tertawa dan tangisan.
Aku bahagia sebagaimana menjadi diriku; diriku yang jauh dari kata sempurna tapi Tuhan menghadirkanku dengan keadaan utuh. Aku sungguh bersyukur, apalagi yang harus aku lakukan selain mengucap terimakasih.
Ada kala jenuh merongga di diriku, jenuh akan keadaanku, jenuh akan suatu hubungan, jenuh dengan orang-orang sekitar bahkan jenuh dengan kehidupan yang itu-itu saja. Kegiatan yang berulang membuatku muak, rasanya seperti makan ayam yang sama setiap hari; aku bosan.
Aku menemui titik bingung ketika dijalanan buntu, semua jalan tertutup dan kepala rasanya ingin pecah tidak menemukan celah sedikitpun. Kalau sudah seperti itu aku harus bagaimana?
Menunggu waktu sambil tetap menjalani hidup, rasanya kebosanan bisa diatasi dengan diri kita yang mencoba lebih terbuka, tidak mudah memang tapi cara itu paling efektif dibandingkan dengan menunggu tangan oranglain untuk menggapai diri kita. Hal tersulit adalah membangunkan diri sendiri daripada memberi kiasan semangat bagi oranglain.
Aku menjalaninya. Aku menjalani masa jenuh itu, aku selalu berucap di setiap matahari pagi bersinar bahwa aku bisa dan aku mampu melewati hari ini dengan keadaan baik-baik saja, syukurlah langit mendengarnya. Ada keadaan saat langit terasa jauh dan hari buruk datang, tapi aku berpikir memang sudah masanya untuk aku ditempa oleh beratnya cobaan yang dimiliki dunia.
Suatu saat nanti jika jenuh itu menghampiri dirimu lagi dan lagi, aku harap kamu selalu menemukan jalan keluarnya meskipun rasanya memuakan.
PS: Aku menulis ini disaat rasanya jenuh sekali berada di kamar satu minggu full, aku harap kalian sehat selalu🌼
with love,
bloom.
.jpg)


Komentar
Posting Komentar